Sebuah Ironi Kehidupan

09/12/13
My Mind

Tulisan ini saya dedikasikan untuk seseorang yang sangat berharga dalam kehidupan saya. Ia yang telah mengajari banyak hal kepada saya. Mengajarkan saya cara tertawa saat saya hampir lupa fungsi tertawa. Ia yang mengajarkan saya untuk kuat, tak pernah mengeluh dengan kenyataan.

Walau kau dipandang sebelah mata oleh mereka, tapi kau tetap yang terbaik yang pernah saya kenal. Kau orang terhebat kedua yang pernah hadir dalam hidup saya. Aku merasa beruntung telah mengenal mu. I Love you, my friend… May Allah bless you in whole your life… Aamiin.

 

Saya melihat dan menyaksikan sendiri betapa terkadang kehidupan ini tidak seindah yang kita bayangkan. Dengan begitu bisa membuat saya sangat bersyukur atas apa yang telah saya miliki saat ini, walaupun keadaan saya tak sebaik mereka, tapi ternyata masih ada orang yang keadaannya tak sebaik diri saya.

Sang kakak melenggang dengan anggunnya ke mobil mewah yang ia miliki. Konon harga second mobil itu saja mencapai nilai seratus juta. Dengan pakaian indah yang harganya mungkin mencapai jutaan, dengan perhiasan emas yang sangat mahal harganya, dan dengan riasan wajah yang semakin membuat penampilannya menarik, walaupun usianya sudah agak banyak, tapi ia tetap terlihat cantik. “Yaa…. Namanya saja orang kaya..”, fikir saya.

Tapi disisi lain saya melihat pemandangan yang sangat kontras. Sang adik kandung dengan pakaian asal, dengan celemek tergantung di bahu sebelah kanan, dengan rambut yang kusut, wajah yang penuh keringat, mengiringi sang kakak berjalan menuju ke mobilnya. Kelihatannya sang adik baru selesai membersihkan mobil kakak tercintanya itu, karena mobil mewah itu akan dipakai ke suatu acara penting. Saat sang kakak menaiki mobilnya, sang adik berjalan menuju kaca depan mobil, rupanya masih ada sedikit kotoran di kaca itu. Buru-buru ia membersihkan kaca itu.

Dalam hati ingin saya menangis melihat pemandangan yang menyakitkan seperti itu. Walaupun sang adik tak pernah mengeluh dengan keadaannya yang seperti itu. Susah, senang, pahit, manis, selalu ia jalani dengan senyuman. Walau terkadang ia menangis didalam senyumnya itu. “Allah, alangkah sedih nasib orang ini?? Punya kakak seorang jutawan tapi …”, batin saya berbisik.

Terkadang saya berfikir, apakah orang yang sedari kecil hidupnya tak pernah mengalami kesusahan tak bisa merasakan sulitnya kehidupan orang lain?? Pantaskah kita membiarkan adik kandung kita melakukan pekerjaan yang seharusnya dikerjakan oleh orang bayaran yang tinggal dirumah kita?? Ataukah itu merupakan balasan yang harus sang adik berikan karena menumpang dirumah sang kakak?? Bukankah sesama keluarga kita harus saling membantu?? Apalah arti harta kekayaan, yang mungkin tak akan habis 7 turunan,  jika untuk membantu keluarga sendiri kita tidak bisa?? Mengapa kita bisa menjadi sangat dermawan dengan orang lain, sedang dengan saudara kandung kita perhitungan??

Sejak kecil sang adik telah menjadi “pembantu” keluarganya sendiri. Mulai dari mencuci pakaian, hingga melakukan pekerjaan berat lainnya. Sang adikpun tak dapat merasakan susah senangnya duduk dibangku kuliah seperti yang dirasakan oleh saudaranya yang lain. Pernah tercetus oleh mulutnya, “saya ini bukan anak sekolahan seperti kalian…”. Sedih hati saya mendengar kalimatnya itu. Hingga dewasa sang adik merasakan susahnya hidup. Saat tak ada pembantu di rumah itu, seluruh pekerjaan ia lakukan sendiri. Mengurus rumah sang kakak, dan mengurus rumahnya sendiri. Menyiapkan sarapan sang kakak dan keluarga, dan menyiapkan sarapan sang suami dan anak-anaknya. “Semoga saya selalu diberikan sehat ya…”

Dari pagi hingga malam sang adik bekerja. Bisakah dibayangkan, bagaimana rasanya membereskan rumah yang sangat besar, yang halamannya saja bisa memuat belasan mobil, dengan tamu yang bergantian datang ke rumah itu, membuatkan air untuk mereka, memasak makanan, menghidangkan makanan, mencuci piring bekasnya, dan tetek bengek lain yang harus ia kerjakan seorang diri kecuali mencuci dan menyetrika. Apakah ada orang yang kuat tenaganya melakukan semua itu seorang diri tanpa berkeluh kesah sekalipun dengan keluarganya?? Saya yakin hanya segelintir dari kita yang sanggup melakukannya.

Melihat pekerjaannya yang bagus seperti itu, saudaranya yang lain yang merupakan adik kandungnya sendiri lantas berkata “Kalau  seperti itu tidak perlu lagi pembantu untuk kerja di rumah ini. Kamu saja yang mengerjakan semuanya sudah beres..”. Innalillahi…. Teganya sang adik berkata seperti itu. Tega benar ia mau memperlakukan kakaknya sendiri layaknya seorang pembantu! Terkadang terbersit di hati saya, andai Allah membalik keadaan, memberi mereka yang hidupnya sedang di atas, kesempatan untuk merasakan kesusahan yang sedang dirasakan sang adik, alangkah senang hati saya. Agar mereka bisa belajar bagaimana cara menghargai orang lain, agar mereka tau bagaimana rasanya hidup susah. Walau mungkin agak buruk isi hati saya itu.

Kejadian lain yang membuat hati saya teriris pedih. Sang adik ingin sekali membelikan PC untuk anaknya, karena kebutuhan sekolah. Akan tetapi sang adik hanya mempunyai uang sedikit. Satu hal yang paling membuat ku salut, sang adik tak pernah meminta, walau dalam keadaan tersulit sekalipun. Tapi jika diberi, ia tidak menolak. Ia bermaksud untuk membeli PC second yang ada dirumah kakaknya itu dengan uang yang ia miliki. Sang kakak tidak keberatan memberikan PC itu secara cuma-cuma. Seraut kebahagiaan terpancar diwajahnya, karena akhirnya kebutuhan anaknya bisa terpenuhi. Kebutuhan pelengkap lain lantas langsung ia beli. Tapi apa yang terjadi?? Ternyata suami sang kakak tidak senang PC itu dipakai oleh keponakannya sendiri. Ia lantas menegur sang kakak, karena memberikan PC itu tanpa seizin darinya. PC itupun ditarik kembali dan dibawa pergi untuk keperluan kantor. Andai saya punya uang banyak, hari itu juga ingin ku berikan ganti PC itu untuk anaknya.

Astaghfirullahal’adzim…. Bisa dibayangkan, betapa pedih perasaan sang adik ketika itu?? Bahkan untuk sebuah PC yang harganya mungkin tidak akan lebih dari dua juta tak mampu ia berikan pada adiknya itu?? Apakah ia tak lihat apa yang telah sang adik lakukan untuk keluarga mereka?? Pagi, siang, sore, malam, sang adik tak berhenti bekerja. Mengantar sang kakak, menjemput keponakan, mengantarkan barang-barang keponakan yang tertinggal ke sekolah, membereskan rumah, membersihkan taman, dan lain-lain sebagainya yang mungkin tidak pernah terlihat olehnya. “Bahkan untuk duduk sebentarpun saya tidak bisa, saking banyaknya kerjaan dirumah itu!!”,  terucap kalimat itu olehnya. Saya bertanya, dimanakah perasaan sang kakak iparnya itu?? Tamu yang datang ke rumahnya selalu dilayani dengan maksimal. Relasi meminjam mobil mewah mereka selalu diberikan. Tapi kenapa?? Kenapa mereka tak pernah bisa berbaik hati dengan keluarga sendiri?? Banyak motor menganggur di rumah itu, tapi sang adik selalu mencari orang lain yang bisa memberikannya pinjaman kendaraan untuk mengantar anaknya pergi sekolah. “Tuhan… Kenyataan macam apa ini??”

Semoga dengan kisah nyata yang saya ceritakan ini, bisa membuat kita mengoreksi diri kita sendiri. Jika kita dalam keadaan yang mapan, tanyakanlah pada diri kita sendiri, “Sudahkah saya berbuat baik dengan keluarga terdekat saya? Apakah saya pernah menyakiti hatinya walau tak sengaja?”. Sadarlah teman, Allah penguasa langit dan bumi. Tak ada hal yang mustahil yang bisa Allah lakukan. Allah bisa membalikkan keadaan kita, dari yang kaya raya menjadi sangat miskin semudah kita membalikkan telapak tangan. Saat kita ingin menyulitkan orang yang ada di bawah, bayangkanlah bagaimana rasanya kita berada dibawah dan dipersulit oleh orang lain.

Andai kita dalam keadaan susah, belajarlah dari sang adik. Sekalipun sakit pedih teriris hatinya, ia tak pernah menitikkan air matanya. Ia tak pernah meminta kepada siapapun, karena prinsipnya, ia bukanlah seorang peminta-minta. Ia tak pernah mengeluh, ia selalu tersenyum. Hanya dalam lagu yang ia senandungkan mungkin ia menangis. Belajarlah untuk menjadi orang yang kuat.

Write a comment

Name *

E-mail *

Website

Message *


0 Comments

There are no comments yet.

Balloons theme by
Moargh.de