Menggaji Upline?

01/27/15
Bisnis

Beberapa bulan yang lalu saya pernah chating dengan salah seorang teman di facebook. Ya sekedar basa basi dan saling menyapa. Suatu ketika, saya menawarkan beliau peluang bisnis seperti yang saya jalani saat ini.

X: “Saya ga ngerti lah mba bisnis semacam MLM gitu. Yang saya tau jualan konvensional ya seperti yang dilakukan Rasul. Kita beli berapa, kita mau untung berapa. Jelas.”

Me: “Memang apanya yang tidak jelas dari bisnis Oriflame? Semua orang menjual dengan harga jual yang sama, dan membeli dari Oriflame dengan harga yang sama pula.”

X: “Memang berapa sih mba untungnya dari penjualan produk? Supaya Oriflame bisa menggaji mba, menggaji upline mba, upline lagi, dan lagi, dan sampai upline paling atas?”

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Duh, makanya fikiran itu jangan dibuat ribet ya dears :)
Nih saya jelaskan analogi yang lebih gampang ya..

Analogi #1

Saya bekerja di sebuah bank milik pemerintah di daerah tempat saya tinggal. Tahu tidak, kami yang baru 1-2 tahun bekerja, gajinya hanya Rp 2juta saja setiap bulannya. Jika kami sudah menjadi pegawai tetap, maka gaji kami sekitar Rp 4juta per bulannya. Gaji seorang kepala bagian tentu lebih besar daripada gaji kami. Gaji seorang kepala cabang, kepala cabang pembantu, dan seorang kepala divisi, jauh lebih besar, dan mendapatkan tunjangan serta fasilitas kendaraan dinas. Gaji direksi? Wihhh jangan ditanya! Berlipat-lipat dari kami. Dengan fasilitas supir, rumah dinas, dan kendaraan dinas nan mewah.

Kok bisa?
Coba perhatikan kalau kalian pergi ke bank. Yang repot bekerja melayani nasabah siapa? Petugas teller dan customer service, bukan? Yang menjaga keamanan bank dari pagi sampe malam dan berdiri di pintu itu siapa? Petugas security, bukan? Yang pergi ke luar, berpanas-panasan untuk menawarkan produk tabungan ke masyarakat, menawarkan pinjaman, menagih tunggakan pinjaman itu siapa? Petugas bagian kredit atau bagian dana dan jasa pasti! Mana ada seorang direksi yang pergi ke warung padang dan menawarkan pinjaman ke pengusaha warung makan tersebut :p

tapi kenapa gaji direksi lebih banyaakk?? Kan kalau pelayanan bagus, bank memiliki pendapatan dan menghasilkan laba, dari semua itu biaya gaji dikeluarkan. Coba bayangkan deh, kalau di bank itu cuma ada direksi, kepala cabang, dan kepala divisi, tanpa ada petugas teller dan petugas kredit. Darimana bank memperoleh pendapatan? Bagaimana gaji mereka yang besar itu bisa dibayarkan?

Nah! Rupanya pekerjaan dan tanggung jawab seorang kepala cabang itu lebih besar dan berisiko ketimbang pekerjaan seorang pelaksana seperti kami. Begitu pula dengan risiko pekerjaan seorang kepala divisi, apalagi direksi. Pengalaman dan pengetahuan mereka juga jauuh lebih banyak daripada kami yang masih pelaksana. Dan itulah yang membuat mereka dibayar mahal oleh perusahaan!

Analogi #2

Bapak membuka usaha warung kelontong dengan menjual segala macam kebutuhan sehari-hari: mulai dari beras, sampai dengan pasta gigi. Kita mendapatkan barang tentu dari distributor besar.

Pertanyaannya: Kalau bapak membeli barang dari distributor, semakin banyak bapak membeli, bukankah mereka semakin banyak untung? Nah distributor langganan bapak itu mengambil barang darimana? Dari pabrik? Lah yang kemudian punya untung paling banyak siapa donk? Yang punya pabrik toh?

1 pabrik sabun mandi di Jakarta (misalnya) bisa mendistribusikan produk mereka ke seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Coba bayangkan, berapa banyak distributor? Berapa banyak untung mereka? Nah kemudian 1 distributor menjual ke sejumlah toko dalam satu kota. Bisa bayangkan berapa banyak toko yang bisa mereka suplay? Berapa untung mereka? Dan kemudian, Bapak menjadi penjual terakhir. Berapa banyak sih pembeli yang membeli sabun di toko bapak? Paling banter juga cuma orang se-RW. lah kalau begitu, pemilik-pemilik warung seperti bapak itu yang menggaji pemilik pabrik donk? Eh bukan cuma pemlik pabrik yang bapak-bapak gaji. Tapi keluarga mereka, pekerja di pabrik mereka, security mereka, dan banyaakk orang yang ada di lingkup pabrik tersebut :p

~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

Nah, lantas kenapa kita begitu khawatir jika bisnis Oriflame ini semakin membuat upline kaya? Bukankah jika kita benar-benar menjalani bisnisnya, sejak hari pertama saja kita sudah untung?

Jika kita mendapat pesanan 1botol parfum seharga Rp 100.000 di katalog, maka harga beli kita adalah Rp 77.000, dan Rp 23.000 adalah keuntungan langsung kita. Jika di bulan pertama kita berhasil mencapai target penjualan, maka kita akan mendapatkan hadiah sesuai promo. Jika sedang tidak ada promo, kita berhak atas hadiah senilai Rp 100.000. Untung lagi, bukan?

Lah terus apa yang salah jika kemudian upline kita yang semakin kaya? Toh mereka sudah terlebih dahulu merintis bisnis mereka. Mengajarkan lebih banyak orang tentang ilmu marketing, menyediakan fasilitas training, bahkan terkadang sampai ada yang membantu menyediakan tester untuk downlinenya.

Kalau saya pribadi, tidak jadi masalah jika upline saya diuntungkan. Karena toh itu berarti saya bermanfaat untuk orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah manusia yang memberi manfaat bagi orang lain? Tinggal kita ubah saja sedikit sudut pandangnya, dari merasa “dimanfaatkan” menjadi rasa “dibutuhkan”. Kalaulah semua orang merasa takut jika orang lain untung, aduhai menyedihkan sekali dunia ini, hanya berisi orang-orang serakah yang memikirkan keuntungan pribadi saja :)

Segitu saja sharing kali ini yaaa,, semoga bermanfaat :). Silakan like n share kalau dirasa tulisan ini cukup mencerahkan. Dan jangan lupa tinggalkan komentar ;)

/Putri
xoxo

Write a comment

Name *

E-mail *

Website

Message *


0 Comments

There are no comments yet.

Balloons theme by
Moargh.de