Mengapa Marah Ketika Ditagih Utang?

01/21/14
My Mind

Beberapa bulan terakhir, ada orang aneh yang tidak saya mengerti jalan pemikirannya. –atau saya yang aneh? Entah lah. Kedua orang ini memperdebatkan manuver-manuver pemerintah daerah yang ingin berupaya agar masyarakat muslim yang dipimpinnya lebih dekat kepada Sang Khalik, Allah Swt. Mereka menentang, karena menurut orang ini, masalah ibadah, adalah masalah pribadi masing-masing orang, tidak bisa dipaksakan.

Sebenarnya saya sudah mulai jengah dengan komentar-komentar mereka, dan kalimat yang lebih kurang sama dikatakan berulang-ulang:

“Apakah si Fulan itu malaikat yang sudah sempurna kehidupannya, makanya ingin mengatur orang sedemikian rupa? Capek sampai berjenggot juga solat atau ibadah lain, belum tentu juga diterima ibadahnya, belum tentu juga bisa masuk syurga. Kenapa harus mengurus orang lain? Ibadah tidak bisa dipaksakan. Ibadah urusan pribadi orang!”

 

“Kalau ingin mengatur orang tua sholat ya susah. Kalau mau, anak-anak TK atau SD, itu bolehlah di atur. Sholat nak, kalau tidak sholat blablabla..”

Well, apakah kita sendiri sudah benar sehingga berani mengkritik orang? Cobalah untuk melihat ke dalam terlebih dahulu.

Sedikit analogi berikut mungkin akan membantu.

Misalkan si Fulan meminjam uang sejumlah 100 juta kepada Tuan Takur, dengan perjanjian di depan saksi dan ditandatangani di atas materai, bahwa si Fulan akan mencicil utangnya selama sekian tahun dengan jumlah sekian juta setiap bulannya. Perjanjian selesai. Si Fulan mendapatkan uang 100 juta. Lalu apa kemudian? Sesuai dengan perjanjian, ya si Fulan harus membayar utangnya.

Tapi jika kemudian si Fulan mulai kesusahan membayar utangnya, apa kira-kira yang akan dilakukan Tuan Takur? Mungkin langkah pertama Tuan Takur akan mengirim pesan bernada halus sebagai pengingat kepada si Fulan untuk segera membayar utangnya sesuai dengan kesepakatan awal. Jika tidak juga membayar utangnya, bisa saja Tuan Takur kemudian menyuruh debt collector menagih ke rumah si Fulan langsung.

Lantas, pantaskah si Fulan kemudian berkata seperti ini?

“Inikan urusan pribadi saya, tidak perlu dipaksakan?! Ada urusan apa Anda datang untuk menagih utang saya? Kalau mau saya bayar, akan saya bayar, kalau tidak ya itu urusan saya!”

Mungkin jika kita menjadi Tuan Takur, kita akan marah mendengarnya, bukan? Sudah jelas-jelas ada perjanjian, seenaknya kemudian bilang “ini urusan pribadi saya, terserah saya mau bayar atau tidak”. Mungkin bagi kita yang mengerti hukum, si Fulan akan segera kita tuntut ke jalur hukum, bukan?

Nah begitu juga kira-kira tentang ibadah. Pernahkah kita berfikir atau mencari tahu, apa sesungguhnya tujuan Allah mencipatakan kita untuk lahir ke muka bumi ini? Sebagai pengingat saja, Allah menjelaskan tujuan kita diciptakan ke muka bumi ini dalam Q.S. Adz-Dzariat ayat 56 (Q.S. 51:56) yang artinya sebagai berikut:

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku

Mengabdi pada ayat tersebut berarti beribadah, baik yang wajib maupun yang sunnah. Sudah jelas kan? Lantas atas dasar apa kemudian kita berani menentang seruan yang mengajak, atau mengingatkan kita untuk melakukan kewajiban kita kepada-Nya? Pantas kah kemudian kita berkata “Ibadah adalah urusan pribadi saya, tidak bisa diatur-atur. Suka-suka saya”? Bagaimana jika nanti Allah menuntut balik kita? Jangankan di akhirat, di dunia saja sudah sangat mengerikan jadinya jika Allah sudah murka dan menuntut balik kepada kita. Mungkin pemikiran kita sudah banyak terkontaminasi dengan pemikiran-pemikiran sekuler barat yang memisahkan antara urusan dunia dengan agama, hingga lahirlah pemikiran bahwa ibadah adalah urusan pribadi masing-masing.

Dan kemudian, bagaimana bisa kita menyuruh anak-anak untuk sholat, jika dari orang tuanya dulu tidak sholat? Anak-anak hanya bisa meniru. Tanpa diperintahpun, jika orang tuanya taat sholat, insya Allah anak-anaknya akan meniru. Busuknya ikan bukan dari ekor, tapi dari kepalanya. Jadi jika ingin membenahi, tanamkan hal yang baik pada anak-anak, dan berikan pula teladan yang baik agar lebih mantap nilai-nilai kebajikan tertanam di dalam pribadi mereka masing-masing.

Saya tidak membenarkan ataupun menyalahkan upaya pemerintah tersebut. Mungkin kita hanya sedikit kaget dengan gaya pemerintahan seperti ini. Mungkin baru kali ini kita mendapati pemerintah yang sadar, bahwa kepemimpinannya suatu saat nanti akan dipertanggung-jawabkan dihadapan Allah Swt, sehingga pemerintah begitu gencarnya melakukan upaya untuk menyeru rakyatnya menuju jalan Allah yang terlalu lama kita abaikan. Memang, belum tentu orang yang menyeru kepada kebaikan akan diterima ibadahnya, akan langsung masuk ke syurga-Nya nanti, tapi setidaknya, satu kewajibannya di muka bumi sebagai khalifah yang bertugas menyeru kepada kebaikan sudah terlaksanakan. Sedangkan kita yang berani menentang, tanya diri kita, apakah sudah ada perintah “amar ma’ruf nahi mungkar” yang kita kerjakan?

Semoga Allah mengampuni dosa saya apabila terdapat kekhilafan di dalam tulisan saya ini. Aamiin.

Write a comment

Name *

E-mail *

Website

Message *


0 Comments

There are no comments yet.

Balloons theme by
Moargh.de